Puisi: Desaku yang Sirna
Desaku yang Sirna
Karya: Jatmiko
Di desa kecil yang dulu kupanggil rumah,
angin pernah berlari di antara pepohonan tua.
Daun-daun menari di pagi yang basah oleh embun,
burung-burung bersiul seperti lagu alam,
dan teduhnya rindang menjadi payung bagi langkah kami.
Dulu jalan tanah itu diselimuti bayang-bayang hijau,
akar-akar pohon memeluk bumi dengan setia.
Anak-anak berlarian, tertawa di bawah kanopi alam,
sementara sungai kecil mengalir pelan,
membawa cerita hutan yang tak pernah lelah bernapas.
Namun waktu datang dengan wajah yang berbeda,
satu per satu pohon tumbang dalam sunyi.
Rindang berubah menjadi barisan yang seragam,
kelapa sawit berdiri tegak seperti penjaga baru,
tapi angin terasa asing ketika melewati mereka.
Kini desa masih berdiri, tetapi nadanya berubah,
burung-burung jarang singgah di pagi hari.
Matahari jatuh langsung ke tanah tanpa teduh,
dan kenangan tentang hutan yang ramah
hanya hidup di cerita orang-orang tua.
Meski begitu, di hati kami masih tumbuh harapan,
bahwa suatu hari hijau akan kembali pulang.
Mungkin dari satu bibit kecil yang ditanam diam-diam,
hingga desa ini kembali bernapas lega,
di bawah pepohonan rindang seperti dahulu kala.
Komentar
Posting Komentar